Skip to content

Squid Game (2025) – Season 3 review | Netflix

Rating: 4 out of 5.

Setelah dua musim penuh kejutan, kekerasan, dan kritik sosial yang tajam, Squid Game Season 3 kembali dengan atmosfer yang lebih kelam, lebih politis, dan lebih pribadi. Kali ini, bukan hanya tentang siapa yang bertahan hidup—tetapi siapa yang benar-benar mengendalikan permainan.

Season 3 ini membawa kita kembali ke dalam dunia permainan maut yang kini tampaknya sudah berevolusi menjadi jaringan global. Setelah pemberontakannya tidak membawa hasil, Seong Gi-hun merasa hancur. Saya nyaris tidak mengenali karakternya di awal season 3 ini. Emosinya naik turun, mulai dari berusaha menghadapi rasa bersalah yang menekan hingga mencari kesalahan pada orang lain. Manusiawi.

Gi-hun tampil jauh lebih kompleks, ia bukan lagi sekadar korban yang ingin balas dendam, tetapi figur abu-abu yang mulai memanfaatkan sistem untuk tujuannya sendiri. Kehadirannya kali ini tidak selalu heroik—dan itu justru membuatnya semakin menarik.

Karakter-karakter yang mencuri perhatian di season 2 harus berakhir dengan tidak menyenangkan, tetapi permainan ini pada akhirnya memang harus berakhir dengan satu pemenang saja. Yoon Sae-jin memang sangat menarik perhatian di season 2 tetapi di season 3 ini, Jang Geum-ja dan Kim Jun-hee membuat season 3 ini larut dalam emosi yang campur aduk.

Selain itu ada juga Lee Myung-gi, karakter yang memang tidak kita kenal secara mendalam, selain kaitannya dengan Jun-hee, tetapi di season 3 ini kita diberi sedikit latar tentang mengapa sikapnya yang abu-abu.

Intinya saya merasa sebagian besar dari mereka memiliki trauma, dampak dari kehidupan yang mereka rasa terlalu kejam. Dan mereka menampilkan “shield” yang berbeda-beda untuk mengatasinya.

Squid Game memang banyak menampilkan sisi-sisi kelam manusia, tidak hanya semata yang berkaitan dengan uang tetapi bagaimana kehidupan memperlakukan mereka, tentang bagaimana sesama manusia memperlakukan mereka. Bukan berarti membenarkan sikap mereka tetapi mereka pun tidak bisa sepenuhnya dipersalahkan. Karena semua ini seperti hukum sebab-akibat.

Permainan dalam season ketiga ini tidak lagi hanya menekankan pada kekuatan atau kelicikan, tapi juga pada moralitas. Salah satu permainan, misalnya, menguji para peserta untuk mengkhianati nilai-nilai pribadi mereka—dan memperlihatkan bagaimana rasa bersalah bisa lebih menyiksa daripada kematian.

Dan pada akhirnya apapun keputusan yang diambil manusia, setelah apa yang mereka alami, merupakan pilihan manusia itu sendiri.

Visual permainan semakin teatrikal, dengan setting yang mengingatkan pada distopia Orwellian bercampur dengan estetika sirkus mimpi buruk. Setiap permainan memuat alegori sosial yang lebih tajam: dari eksploitasi media, manipulasi informasi, hingga pengorbanan ideologis demi bertahan hidup.

Secara visual, Squid Game Season 3 tetap menakjubkan. Palet warna masih bermain kontras antara cerah-kekanakkan dan gelap-suram, mempertegas absurditas dunia permainan. Musik latarnya lebih eksperimental, dan efek suara pada momen kekerasan terasa makin menusuk psikologis.

Cerita season tiga ini memang tidak akan memuaskan semua orang, saya sendiri merasa “bertanya-tanya” meskipun setelah dua season berlalu saya tahu bahwa cerita Squid Game ini bukan ditujukan untuk “happy ending”. Deep down saya berharap banyak hal tidak terjadi, padahal memang tidak mungkin tidak.

Terlepas dari variatifnya karakter manusia di Squid Game ini, mereka tetap hanyalah manusia, yang bisa melakukan kesalahan, tetapi juga mampu untuk menebarkan kebaikan, yang mampu untuk merusak, tetapi juga mampu untuk membuat keindahan. Bagaimanapun manusia itu, mereka tetap tidak layak dikendalikan dan diadu seperti kuda. Manusia itu…

Squid Game Season 3 tayang di Netflix mulai 27 Juni 2025.

Social media & sharing icons powered by UltimatelySocial
%d bloggers like this:
Verified by MonsterInsights