Skip to content

The Ghost Game (2025) – movie review

Rating: 2.5 out of 5.

Gi-ho (Seo Dong-hyun), seorang YouTuber amatir yang terobsesi pada konten viral, mengumpulkan teman-temannya—Ja-Young (Yeri), sang adik Seo-Woo (Park Seo-yeon), Dong-joon (Lee Chan-hyeong), Ye-Eun (Oh So-hyun), dan Mi-Yeon (Kim Eun-bi)—untuk membuat video pemanggilan arwah palsu. Tujuannya sederhana, untuk memenangkan kompetisi berhadiah uang besar.

Lokasi yang mereka pilih adalah bangunan tua yang pernah digunakan pada masa pendudukan Jepang. Sebuah tempat yang—bahkan tanpa ritual—sudah membawa ketidaknyamanan.

Sebelum kamera mulai merekam, Ja-Young mengusulkan hal yang lebih berbahaya: melakukan pemanggilan sungguhan. Ada pertanyaan yang ia simpan bertahun-tahun tentang seseorang bernama In-Young, dan ia berharap ritual itu memberi jawaban. Seo-Woo menjadi medium, sementara teman-teman lain menulis pertanyaan tentang masa depan masing-masing.

Ritual itu seharusnya hanyalah sebuah permainan. Tapi permainan itu berjalan ke arah yang tak terduga. Satu demi satu, ramalan dalam pertanyaan mereka terwujud—dengan cara yang paling mengerikan.

Dari luar, The Ghost Game tampak seperti horor remaja biasa: penuh teriakan, dramatisasi murahan, dan konflik cinta yang tak pernah benar-benar dibutuhkan. Jadi pertanyaannya sederhana—apa film ini akan menawarkan sesuatu yang berbeda?

Film ini dimulai dengan baik—sayangnya, harapan itu tidak bertahan lama. Seperti banyak horor remaja lain, film ini akhirnya tergelincir juga: segitiga cinta tak penting, bumbu pemerasan juga perundungan yang dimasukkan tanpa kedalaman, dan hubungan antar tokoh yang sebenarnya tidak masuk akal sebagai sebuah kelompok pertemanan.

Walaupun judulnya The Ghost Game, film ini bekerja sebagai horor kerasukan yang cukup kuat di kedua sisi: sebagai permainan dan sebagai tragedi. Premisnya sederhana, bahkan familiar: sebuah séance memanggil roh yang akan merasuki salah satu remaja, lalu roh itu menjawab pertanyaan yang diajukan peserta ritual.

Kita tahu apa yang akan terjadi: aturan dilanggar, ritual berantakan, lalu kekacauan mulai menampakkan wajahnya.

Yang menarik, film ini memberlakukan batasan ruang yang luar biasa ketat. Hampir seluruh cerita berlangsung hanya di sebuah ruangan kecil tempat ritual dilakukan, dihiasi pilar beton berantai dan kolam air pentagonal yang konon dipenuhi jiwa-jiwa terkutuk. Ruang sempit ini menjadi tekanan psikologis tersendiri, membuat teror terasa lebih dekat, lebih menyesakkan.

Beberapa adegan terasa cukup berhasil dalam membawa nuansa horror, salah satunya adegan close-up mulut ketika rambut panjang merangsek masuk ke tubuh.

Bunker bawah tanah tempat syuting menjadi ruang sempit yang membuat ketegangan selalu merayap, sementara darah dan gore digunakan secukupnya untuk memaksimalkan shock.

Suara “frog croak” ala Ju-On? Sangat dikenali. Terlalu.

Dengan jumlah aktor yang kecil, chemistrynya terasa organik. Yeri tampil tajam sebagai Ja-Young —rapuh, obsesif, namun tetap menyimpan kekuatan tersembunyi. Park Seo-yeon juga mencuri perhatian sebagai Seo-Woo yang tragis dan tak berdaya.

Kekuatan The Ghost Game justru terletak pada keberaniannya menyatukan ide-ide yang sudah familiar —ritual, kerasukan, permainan maut—dengan kegelisahan yang sangat kontemporer: dunia digital sebagai panggung paling bising bagi ambisi manusia. Dalam debut penyutradaraannya, Son Dong-wan tidak sekadar memotret obsesi remaja Korea terhadap validasi daring, tetapi mengupasnya pelan-pelan, tanpa nada menghakimi. Ia menciptakan sebuah arena di mana kamera, konten, dan kematian berdiri sejajar, dan batas antara hiburan dan tragedi menjadi kabur.

Para karakter tidak pernah benar-benar diposisikan sebagai korban semata. Mereka adalah produk zamannya—generasi yang belajar sejak dini bahwa eksistensi baru terasa sah ketika disaksikan. Maka hantu di film ini hanyalah pemicu. Teror yang sesungguhnya lahir dari kebutuhan mereka untuk dilihat, diakui, dan dipercaya—bahkan jika itu berarti mempertaruhkan nyawa di depan kamera.

Pertanyaan para remaja itu remeh—cinta, kecemburuan, ambisi dangkal Gi-ho—tetapi justru keremehan itu menjadi pintu masuk menuju konsekuensi yang sangat tidak remeh.

Son Dong-wan memanfaatkan flashback sebagai potongan puzzle yang membawa kita menuju twist terakhir, membuka rahasia yang jauh lebih gelap daripada permainan itu sendiri.

Apakah twist itu berhasil? Tergantung, namun dalam konteks film ini, ia memberikan beban emosional yang cukup untuk membuat kisahnya terasa lebih besar dari sekadar ritual gagal.

Endingnya menjadi semacam penyelesaian yang meninggalkan rasa puas sekaligus getir.

The Ghost Game tidak membawa hal yang sepenuhnya baru dalam genre horor. Tetapi ia melakukan sesuatu yang sulit: memberi wajah baru pada premis lama tanpa kehilangan energi atau relevansinya.

Ini adalah horor tentang ritual, ambisi digital, tekanan sosial—dan juga tentang bagaimana rasa bersalah tumbuh seperti teror yang selalu tahu cara kembali menghantui.

Sutradara : Son Dong-wan Penulis : Son Dong-wan Pemeran : Kim Ye-rim, Lee Chan-Hyeong, Seo Dong-hyun, Kim Eun-bi, Park Seo-Yeon, Oh So-Hyun

Social media & sharing icons powered by UltimatelySocial
%d bloggers like this:
Verified by MonsterInsights