Skip to content

Rabbit Trap (2025) – movie review

Rating: 3 out of 5.

““Rabbit Trap” adalah drama supernatural yang aneh, sunyi, dan sedikit surreal—tentang sepasang musisi muda yang hidupnya mulai diganggu oleh kehadiran seorang anak misterius. Dari awal, film ini terasa ingin menebalkan kembali akar British folk horror, tapi dengan pendekatan yang jauh lebih halus.

Dev Patel dan Rose McEwen berperan sebagai Darcy dan Daphne, pasangan yang pergi ke pedalaman Wales untuk mencari inspirasi suara-suara baru, hanya untuk menemukan hubungan mereka berada di titik ganjil. Semua bermula ketika Darcy tanpa sengaja masuk ke sebuah faerie circle berlapis jamur—lalu pingsan. Setelah sadar, ia memang kembali ke obsesinya mencari bunyi-bunyi baru, tapi ada sesuatu yang terasa berubah. Seperti ada hal lain yang ikut terbawa, dan tak bisa ia abaikan.

Jade Croot mencuri perhatian lewat performanya yang kuat dan ganjil. Kehadirannya memberi film ini nuansa dongeng—yang pelan-pelan menggelap, tapi tidak pernah sepenuhnya meninggalkan rasa fairytale. Setiap kali ia berbicara, rasanya seperti sedang mengajak penonton masuk lebih jauh ke dalam cerita, bukan sekadar menontonnya dari luar.

Inti dari “Rabbit Trap” bukanlah teror yang meledak-ledak, melainkan atmosfer hening yang merayap, dibangun lewat suara-suara ganjil yang seolah berbisik. Film ini menampilkan visual yang menarik, seperti sebuah dongeng kelam yang menumbuhkan horornya langsung dari tanah, hutan, dan kabut.

Alih-alih menghadirkan ancaman yang jelas, film ini mengarahkan kita pada detail-detail kecil seperti tetesan air di kedalaman gua, gema suara manusia yang tak jelas sumbernya, yang membuat alam yang ditampilkan menjadi lebih hidup. Atmosfernya memikat sekaligus terasa seakan selalu ada ancaman yang mengintip.

Menariknya, film ini seakan tidak benar-benar peduli pada jawaban tentang apa yang harus dilakukan Darcy dan Daphne ketika seorang anak asing—tanpa nama, tanpa sejarah—muncul dan mengganggu keseharian mereka. Begitu penonton mulai mencari makna di balik kehadiran anak itu, film justru menggeser fokusnya.

Sayangnya eksplorasi cerita terhadap trauma masa kecil dan relasi antara Darcy dan Daphne kadang terasa mengambang. Chainey mungkin lebih suka memberi isyarat daripada penjelasan, dan visual efek yang ia gunakan justru memberi fondasi kuat untuk sebuah pertanyaan : apa yang akan dilakukan anak itu selanjutnya?

Meski ada momen dimana saya berharap film ini menggali retakan mental para karakternya lebih dalam, Chainey tetap berhasil menjaga ritme agar rasa kegelisahannya tidak pernah padam.

Dan mungkin di situlah kekuatan terbesar “Rabbit Trap”. Film ini membuat kita terus menebak-nebak. Dalam film seperti ini, jarak antara penonton dan narasi menentukan apakah kita akan tenggelam atau justru mengambang. Meski penutupnya terasa sedikit lebih aman, keanehan yang tersisa cukup kuat untuk membuat kita bertanya: jangan-jangan, ada sesuatu yang kita lewatkan.

Sutradara : Bryn Chainey Penulis : Bryn Chainey Pemeran : Dev Patel, Rosy McEwen, Jade Croot

Social media & sharing icons powered by UltimatelySocial
%d bloggers like this:
Verified by MonsterInsights