Ada premis yang terdengar mustahil untuk difilmkan: lima puluh anak muda berjalan tanpa henti. Tidak ada pengejaran, tidak ada ledakan, tidak ada peta petualangan. Hanya kaki yang menginjak aspal, peluh yang mengering, dan peluru yang menunggu siapa pun yang melambat. Stephen King, menulis di bawah nama samaran Richard Bachman pada 1979, merancang sebuah eksperimen pikiran yang lebih menakutkan dari monster mana pun — apa yang terjadi ketika manusia menjadikan nyawa sesama sebagai tontonan?
Latar belakang film ini adalah Maine, Amerika, yang tampak seperti versi gelap dari masa sekarang : negara totaliter pasca-perang, ekonomi hancur, dan rakyat yang kehilangan harapan. Solusinya? The Long Walk — kompetisi tahunan di mana lima puluh pemuda, satu dari tiap negara bagian, berjalan tanpa batas dengan kecepatan minimum tiga mil per jam. Bila berhenti berjalan, Tiga peringatan. Setelah itu, peluru.
Sang pemenang mendapat apa saja yang diinginkannya. Satu nyawa dibeli dengan empat puluh sembilan nyawa lain. Tidak ada garis finish. Tidak ada belas kasihan.
Skenario JT Mollner membuat satu pilihan dramatis yang penting: ia tidak terlalu sibuk membangun dunia di sekeliling arena. Eksposisi dibuat minimal. Kita merasakan sistem ini bukan karena diceritakan, tetapi karena kita menyaksikan bagaimana para pemuda ini menerimanya — bukan dengan ketakutan, melainkan dengan ambisi. Dan itulah yang paling menghantui.

Cooper Hoffman mengambil karakter Ray Garrity dan memberinya lapisan kerentanan yang membuat kita tidak bisa berpaling. Ini bukan lagi pemuda yang ingin menang — ini adalah pemuda yang perlahan menyadari bahwa ia mungkin tidak akan pernah pulang.
Namun jika Hoffman adalah jantung film ini, maka David Jonsson adalah jiwanya. Sebagai McVries, ia memberikan penampilan yang sama kuatnya. Ada satu adegan pertengahan film — tanpa dialog yang berarti, hanya tatapan di bawah cahaya matahari yang hampir tenggelam — di mana Jonsson menyampaikan semua yang perlu dikatakan tentang apa artinya berjalan menuju kematian sambil masih mencoba peduli pada orang di sebelahnya.
Sinematografi film ini memanfaatkan lanskap yang luas dan terkesan sepi — jalan raya panjang yang seolah tidak berujung, langit kelabu yang menekan ke bawah seperti batu. Palet warna yang muted dan desaturated bukan sekadar pilihan estetis; ia adalah pilihan ideologis. Dunia ini telah kehilangan warnanya.
Lawrence tidak segan menampilkan konsekuensi fisik dari perjalanan ini. Tubuh yang rusak ditampilkan dengan kejujuran yang menyakitkan — bukan demi sensasi, melainkan karena film ini menuntut penonton untuk tidak bisa lari dari apa yang sedang terjadi. Di sinilah The Long Walk berbeda dari film-film dystopian kebanyakan: ia tidak membiarkan kita menikmati kekerasan. Ia memaksa kita merasakannya.
Sutradara : Francis Lawrence Penulis : JT Mollner, Stephen King Pemeran : Cooper Hoffman, David Jonsson, Garrett Wareing, Tut Nyuot, Charlie Plummer, Ben Wang, Roman Griffin Davis, Jordan Gonzalez, Joshua Odjick, Josh Hamilton, Judy Greer, Mark Hamill
