Setelah keberhasilan The Substance dalam mengangkat genre body horror, beberapa film mulai bermunculan dan menggunakan transformasi tubuh sebagai metafora untuk trauma atau tekanan sosial. Film Thinestra ini hadir membawa premis yang terdengar ganjil sekaligus mengundang rasa penasaran.
Bagaimana jika lemak yang berhasil dibuang dari tubuh ternyata tidak benar-benar hilang, melainkan berubah menjadi sosok lain yang hidup, memiliki kesadaran sendiri, dan mulai menghancurkan kehidupan pemiliknya?
Premis yang terdengar absurd, tetapi dibalik cerita tentang pil diet ajaib dan monster hasil transformasi tubuh, film ini sebenarnya berbicara mengenai rasa benci terhadap diri sendiri, standar kecantikan yang terasa tidak realistis, serta tekanan sosial yang membuat seseorang terus merasa dirinya tidak pernah cukup baik.
Penny adalah seorang perempuan yang selama bertahun-tahun merasa terjebak dalam ketidakpuasan terhadap bentuk tubuhnya. Ketika ia menemukan pil diet eksperimental bernama Thinestra, hidupnya seolah berubah dalam semalam. Berat badannya turun drastis tanpa usaha berarti dan ia akhirnya memperoleh tubuh yang selama ini diimpikan.
Namun kebahagiaan itu hanya berlangsung sesaat.
Lemak yang “dibuang” dari tubuh Penny ternyata tidak benar-benar lenyap. Ia menjelma menjadi sosok mengerikan bernama Penelope—versi lain dari dirinya yang dipenuhi amarah, kebencian, dan naluri membunuh. Seiring waktu, Penelope mulai mengambil alih kehidupan Penny, memaksanya menghadapi sisi tergelap dari dirinya sendiri.
Alih-alih hanya mengandalkan adegan berdarah atau transformasi tubuh yang menjijikkan, Thinestra mencoba menjadikan body horror sebagai bahasa visual untuk menggambarkan konflik psikologis.

Penelope bukan sekadar monster. Ia adalah representasi dari seluruh rasa malu, trauma, serta kebencian yang selama ini dipendam Penny terhadap dirinya sendiri. Semakin Penny terobsesi menjadi “sempurna”, semakin besar pula kekuatan yang dimiliki Penelope.
Metafora ini terasa cukup relevan dengan kondisi masyarakat saat ini. Budaya media sosial, tuntutan tampil sempurna, hingga maraknya produk maupun obat penurun berat badan instan membuat banyak orang mengejar standar kecantikan yang nyaris mustahil dicapai. Thinestra mengingatkan bahwa perjuangan melawan tubuh sendiri sering kali berubah menjadi peperangan melawan identitas diri.
Horornya berkembang dari bagaimana tubuh Penny perlahan kehilangan kendali atas dirinya sendiri. Perubahan fisik yang awalnya tampak seperti impian berubah menjadi kutukan yang sulit dihentikan.
Atmosfer yang dibangun juga konsisten menjaga nuansa psikologis sepanjang film. Ketegangan lahir bukan hanya dari ancaman monster, tetapi juga dari pertanyaan mengenai batas antara realitas dan manifestasi kondisi mental Penny.
Sayangnya, ketika premisnya berhasil menarik perhatian, pengembangannya terasa belum sekuat yang diharapkan.
Cerita berjalan dengan pola yang cukup mudah ditebak sehingga beberapa kejutan kehilangan dampaknya. Konflik psikologis Penny sebenarnya memiliki potensi untuk dieksplorasi lebih dalam, tetapi naskah lebih sering memilih jalur yang aman. Beberapa karakter pendukung pun hadir hanya sebagai pelengkap tanpa kontribusi berarti terhadap perkembangan cerita.
Tempo film juga sedikit menurun di bagian tengah. Setelah pembukaan yang menjanjikan, ritme narasi terasa berulang sebelum akhirnya kembali meningkat menjelang klimaks.
Hal yang menarik dari Thinestra justru terletak pada munculnya sosok Penelope.
Monster ini bukanlah musuh dari luar, melainkan bagian dari Penny sendiri. Ia lahir dari semua rasa tidak aman yang selama ini dipendam. Setiap kali Penny membenci tubuhnya, menganggap dirinya tidak cukup cantik, atau merasa hidupnya baru akan berarti jika menjadi lebih kurus, Penelope tumbuh semakin kuat.
Pesan tersebut membuat horor dalam film ini terasa lebih emosional dibanding sekadar menampilkan adegan gore. Pada akhirnya, musuh terbesar Penny bukanlah pil diet maupun monster yang muncul setelahnya, melainkan kebenciannya sendiri terhadap siapa dirinya.
Sutradara: Nathan Hertz
Penulis: Avra Fox-Lerner
Pemeran: Michelle Macedo, Melissa Macedo, Gavin Stenhouse, Shannon Dang, Norma Maldonado, Brian Huskey, Annie Ilonzeh, Mary Beth Barone
