Skip to content

Until Dawn (2025) – movie review

Rating: 3 out of 5.

Film Until Dawn ini sebenarnya memiliki sesuatu yang unik dan menurut saya sedikit berbeda. Ia menyuguhkan cerita misteri yang perlahan dibuka, dibungkus dalam suasana yang sunyi dan mencekam. Walaupun filmnya bukanlah yang over the top tetapi cukup efektif dari segi pengembangan cerita dan dalam membangun suasana horrornya.

Sinopsis. Setahun setelah adiknya menghilang tanpa jejak, Clover memutuskan kembali ke lokasi terakhir sang adik terlihat—sebuah rumah tua di area pegunungan yang sepi. Ia datang bersama empat temannya: Max, Nina, Megan, dan Abe. Tujuannya sederhana: mencari petunjuk sekecil apapun yang bisa membawa mereka untuk bisa menemukan keberadaan adiknya.

Tapi malam itu, sesuatu yang tak terlihat mulai mengintai mereka. Mereka mulai diburu dan dibunuh dengan brutal. Tetapi ceritanya tidak berhenti sampai disitu, mereka hidup kembali dan mengulang pola yang sama, dengan monster yang berbeda-beda. Seolah-olah rumah itu sedang menguji mereka, menggali setiap sisi gelap yang pernah mereka sembunyikan.

Kini mereka terjebak dalam loop yang tak masuk akal, dan satu-satunya jalan keluar, mungkin bukan dengan melarikan diri, tapi dengan mencari kebenaran yang tersimpan di dalam rumah tersebut.

Review. Jujur, adaptasi dari game horor klasik ini agak sedikit diluar dari ekspektasi saya dengan atmosfer mencekam, misteri dan ritme psikologis yang menghantui hingga akhir.

Kelima karakter utama tidak sempurna, dan justru di situlah kekuatannya. Mereka saling menyalahkan, menyimpan rahasia, dan perlahan—dibongkar oleh waktu yang terus berulang. Kematian dalam film ini bukan akhir, tapi bentuk hukuman.

Yang menarik, setiap kali mereka hidup kembali, tidak hanya monster yang berubah—mereka juga berubah.

Until Dawn lebih memilih pendekatan lambat tapi bertahap. Cerita dibangun dengan perlahan, memberi ruang untuk mengenal para karakter dan mengamati bagaimana mereka mulai terpengaruh oleh ketakutan.

Meski premisnya terasa familiar—sekelompok orang terjebak di tempat asing dan mulai diburu—film ini punya elemen psikologis yang membuatnya sedikit lebih menantang. Ketegangan muncul bukan hanya karena ancaman luar, tapi karena masing-masing karakter membawa beban emosional yang belum selesai.

Clover menjadi pusat cerita dan tampil cukup meyakinkan sebagai sosok yang dihantui rasa bersalah. Ia tidak digambarkan terlalu kuat atau terlalu rapuh—cukup manusiawi untuk membuat penonton peduli. Karakter lainnya pun diberi porsi yang cukup seimbang, dengan kepribadian yang berbeda-beda namun tidak dibuat terlalu stereotipikal.

Interaksi antar tokoh kadang terasa canggung, tapi justru itu memperkuat nuansa ketegangan—karena mereka bukan kelompok yang solid, melainkan individu dengan motif dan ketakutan masing-masing.

Menurut saya make up prosthetics, creature designer, juga special dan visual effectsnya menambah nilai plus dari film ini, saya menyukai perubahan-perubahan yang ditampilkan oleh beberapa karakter.

Meski secara keseluruhan film ini cukup solid, ada beberapa bagian yang terasa berjalan lambat, terutama di awal dan pertengahan. Bagi sebagian penonton, ini mungkin terasa membosankan. Beberapa keputusan karakter juga terasa kurang logis, meskipun bisa dimaklumi dalam situasi panik.

Namun film ini tidak jatuh ke jebakan horor yang terlalu teatrikal. Ketegangan yang dibangun cukup konsisten, dan akhir cerita memberi semacam penutup yang membuat kita merenung, bukan hanya sekadar terkejut.

Until Dawn adalah mimpi buruk berulang yang terasa nyata. Ini bukan hanya soal lari dari pembunuh bertopeng atau makhluk gelap. Ini soal berhadapan dengan diri sendiri di saat paling rapuh—dan tetap memilih bertahan.

Sutradara : David F. Sandberg Penulis : Gary Dauberman, Blair Butler Pemeran : Ella Rubin, Michael Cimino, Odessa A’zion, Ji-young Yoo, Belmont Cameli, Maia Mitchell, Peter Stormare

Social media & sharing icons powered by UltimatelySocial
%d bloggers like this:
Verified by MonsterInsights