Franchise V/H/S sudah lama menjadi laboratorium eksperimen untuk found footage yang brutal dan selalu melampaui batas kenyamanan penonton. Kini, lewat V/H/S/Halloween (2025), para kreator mengingatkan kita bahwa Halloween bukan hanya tentang kostum dan permen gratis — tapi juga tentang legenda kelam dan ketakutan yang diwariskan turun-temurun.
Film ini merupakan antologi horor yang merayakan malam paling mengerikan dalam setahun. Setiap segmen menyumbangkan kegilaan tersendiri, namun tetap terhubung dalam satu tape yang seolah dikirim langsung kepada kita, para penikmat teror.
Sejak awal, V/H/S/Halloween memposisikan dirinya sebagai rekaman yang seharusnya tidak boleh beredar. Kamera bergoyang, audio pecah, dan momen-momen disturbingly real menjadi bagian dari sensasi visual. Film ini terasa seperti menemukan paket misterius di depan pintu — dan kita tetap penasaran membukanya walau tahu isinya terkutuk.
V/H/S/Halloween seperti biasa terbagi dalam beberapa segmen :
Diet Phantasma. Setiap franchise V/H/S/ selalu memiliki satu segmen yang menjadi semacam benang merah antara rekaman-rekaman mengerikan yang ditampilkan. Kali ini segmen tersebut adalah Diet Phantasma karya Bryan M. Ferguson. Sebuah eksperiman gila tentang sebuah minuman yang dilakukan dalam ruang riset rahasia. Setiap subjek uji coba seakan hanya menunggu waktu untuk mengalami efek samping yang mengerikan.
Coochie Coochie Coo. Segmen pertama dibuka dengan karya milik Anna Zlokovic. Segmen ini menceritakan dua remaja perempuan yang ingin menikmati satu malam halloween terakhir tetapi mereka justru terjebak dalam sebuah rumah dimana didalamnya terdapat sosok “Mommy” yang dikenal dalam cerita urban legend sebagai figur mengerikan yang mengambil remaja nakal setiap malam Halloween.

Ut Supra Sic Infra karya Paco Plaza, dimana ceritanya berpusat pada satu-satunya survivor dari sebuah pembantaian brutal. Polisi menginterogasi dan membawanya kembali ke lokasi kejadian untuk me-reka ulang apa yang terjadi pada teman-temannya yang berakhir tanpa bola mata, ketika tiba-tiba telepon yang tak terhubung, berdering.
Fun Size karya Casper Kelly mungkin menjadi cerita yang paling mengerikan dan brutal. Empat orang sahabat menemukan sebuah mangkuk permen besar tanpa penjaga, dengan catatan satu orang hanya boleh mengambil satu permen. Tentu saja tidak semua orang akan patuh pada aturan tersebut. Keserakahan kecil ini membawa mereka ke dalam dunia yang mustahil, sebuah pabrik permen yang lebih mirip cerita Willy Wonka dalam versi horror.
Kidprint, karya Alex Ross Perry tampil dengan plot yang sederhana tetapi mengerikan sekaligus tragis. seorang pegawai tempat cuci cetak foto yang juga merekam video anak-anak setiap Halloween… “jaga-jaga kalau mereka hilang.” Dan memang banyak anak yang hilang di daerah itu. Segmen ini memang masuk ke wilayah yang sangat gelap tetapi di sisi lain seakan mengungkap kebenaran pahit tentang predator yang hidup di balik wajah sehari-hari.
Home Haunt menjadi sebuah penutup, garapan Micheline Pitt-Norman & R.H. Norman. Sebuah keluarga yang menjalankan “rumah hantu” bagi warga sekitar tetapi justru menjadi mimpi buruk ketika sebuah piringan hitam terkutuk memanggil neraka dari balik dinding rumah.
Semuanya berubah menjadi kengerian fisik yang sangat nyata — bukan lagi trik dekorasi, tapi teror yang benar-benar membunuh. Bahkan segmen ini menyambungkan dirinya ke segmen pembuka, menjahit tema rumah hantu yang benar-benar berhantu sebagai lingkaran teror yang sempurna.
Saya tidak bisa mengatakan bahwa saya menyukai V/H/S/Halloween tetapi dari segi cerita dan juga visual tidak bisa dipungkiri bahwa ini merupakan salah satu seri yang terbaik.
