Yang mati, ternyata tidak benar-benar mati.
Yang magis, ternyata bisa membusuk.
Dan yang tampak indah… bisa sangat mematikan.
Kita tumbuh dengan membayangkan unicorn sebagai makhluk cantik, suci—putih, bercahaya, dan selalu identik dengan kebaikan. Tapi Death of a Unicorn, debut film panjang dari sutradara Alex Scharfman, menghancurkan fantasi itu dan menggantinya dengan sebuah kisah kengerian estetis yang mengendap pelan namun menusuk tajam.
Sinopsis. Paul Rudd berperan sebagai Elliot, seorang penghubung hukum untuk pimpinan perusahaan farmasi bernama Odell Leopold, yang menderita kanker tahap akhir. Elliot bersama putrinya, Ridley (Jenna Ortega), sedang dalam perjalanan menuju tempat tinggal Odell, ketika secara tak sengaja menabrak seekor unicorn di jalan hutan yang sunyi.
Alih-alih melapor atau membiarkan makhluk itu beristirahat dengan tenang, mereka membawanya ke tempat tinggal Odell. Unicorn, makhluk yang seharusnya suci, kemudian menjadi objek eksploitasi. Dan dari situ, kutukan dimulai.
Review. Tidak seperti film horor penuh “jumpscare”, Death of a Unicorn memanfaatkan atmosfer, absurditas, dan kejutan biologis yang menggelisahkan. Penonton dibuat tidak nyaman oleh visual tubuh manusia yang perlahan bereaksi terhadap keberadaan makhluk ini—muntahan kelopak bunga yang berdarah, suara bisikan dari tanduk yang telah dipotong, dan wajah-wajah yang makin kehilangan kemanusiaan.
Scharfman seperti meramu Pan’s Labyrinth, Annihilation, dan Black Mirror lalu membungkusnya dalam estetika pastel yang menyeramkan.
Paul Rudd bermain di luar zona nyamannya, memerankan karakter yang perlahan digerogoti rasa bersalah dan ambisi. Tapi bintang sesungguhnya adalah Jenna Ortega. Matanya menyimpan kombinasi trauma, keberanian, dan rasa ingin tahu yang berbahaya. Kita melihatnya tumbuh dewasa dalam situasi yang jauh dari layak—melawan monster luar dan dalam.
Unicorn dalam film ini bukan sekadar makhluk ajaib—ia menjadi simbol dari alam yang dieksploitasi, kemurnian yang dikorbankan atas nama sains dan uang, dan konsekuensi dari keserakahan manusia. Lebih kejamnya lagi semua dibenarkan dalam nama kesehatan.
Ketika tubuh unicorn mulai membusuk dan mencemari sekitarnya, yang muncul bukan hanya wabah biologis, tapi juga kehancuran moral. Ini adalah horor yang menggigit, karena kita tahu: manusia dalam cerita ini mewakili kita.
Dalam beberapa hal, saya cukup suka tampilan Unicorn yang divisualkan, ada kesan horror tetapi tetap terasa sisi anggun dan majestic-nya.
Death of a Unicorn adalah film yang indah dan menjijikkan pada saat bersamaan. Ia menyayat lambat, memaksa kita menatap bagaimana hal yang kita anggap “indah” bisa jadi sangat berbahaya saat dipaksa tunduk pada dunia manusia.
Jika kamu suka horor dengan lapisan makna, visual surealis, dan ending yang bikin kamu termenung lama setelah kredit terakhir bergulir, film ini wajib masuk daftar tontonmu.
Director: Alex Scharfman Writer: Alex Scharfman Cast: Paul Rudd, Jenna Ortega, Will Poulter, Téa Leoni, Richard E. Grant
