Skip to content

No Other Choice (2025) – movie review

Rating: 4 out of 5.

Park Chan-wook kembali lewat sebuah film adaptasi dari novel Donald Westlake dan seperti biasa ia tidak hanya menceritakan kisah, tapi membongkar kerumitan dunia. Menurut Westlake, tujuan hidup bukan hanya hidup untuk diri sendiri, tapi juga menjadi individu yang utuh, punya hubungan yang sehat, punya prinsip, dan siap improvisasi di tengah kekacauan.

Tapi semua itu mengandaikan bahwa dunia memberi kita ruang untuk menjadi manusia. Kalau dunia tidak memberi ruang? Ya mungkin itulah yang terjadi pada Man-soo, yang rela menghilangkan nyawa untuk mendapatkan posisi middle management di sebuah pabrik kertas.

Lee Byung-hun—yang makin dikenal setelah Squid Game— kembali menyuguhkan salah satu performa paling kuat dalam kariernya. Ia memerankan Man-soo, seorang pekerja senior di pabrik kertas yang hidupnya tampak ideal di adegan pembuka. Scene awal tampak seperti iklan keluarga bahagia : seorang istri (Son Ye-jin) yang suportif, dua anak, dua golden retriever, rumah yang nyaman, dan pekerjaan yang stabil. Tetapi dalam sekejap, semuanya hilang – Man-soo di PHK.

Secara visual film ini membawa vibes yang tenang bahkan ketika Man-soo mulai merasa terpuruk dengan kondisi ekonominya. Hingga sebuah perusahaan kertas besar membuka lowongan untuk satu posisi senior. Man-soo merasa posisinya terpojok dengan persaingan yang ketat dan tekanan yang terlalu besar, hingga ide gila itu muncul. Jika ingin memastikan posisi tersebut jatuh kepada dirinya, ia harus menyingkirkan pesaingnya, satu per satu.

Seorang pria paruh baya yang tiba-tiba kehilangan pekerjaan, harga diri, dan posisi hidupnya, mungkin bisa dipahami bila ia mulai goyah. Keputusan Man-soo jelas salah tetapi film ini tidak memberi penghakiman.

Man-soo bukan monster, psikopat, ataupun sosiopat. Ia mengorbankan sisi manusiawinya demi alasan yang menurutnya mulia : keluarga. Ada satu momen mengharukan ketika putrinya sangat bersedih karena harus melepas kedua anjing golden retrievernya. Man-soo terlihat sangat bertekad untuk mengembalikan kedua anjing tersebut pada putrinya.

Terlepas dari kondisi Man-soo saat itu, keputusan yang ia ambil buat saya merupakan plot twist yang mengejutkan. Tetapi keputusan Man-soo untuk mengeliminasi saingan-saingannya demi sebuah pekerjaan yang sewaktu-waktu bisa kembali hilang, terasa sangat ironis tetapi dalam banyak hal juga terasa dekat dengan realita.

Film ini menempatkan kita pada dua pilihan: menjadi bagian dari masyarakat—hidup dalam moralitasnya, dengan segala ketimpangan namun memberi stabilitas, atau bertarung sendirian dan hidup untuk diri sendiri, tanpa belas kasihan, tanpa ilusi manis.

Kekerasan tetap ada, tetapi lebih sebagai konsekuensi psikologis daripada sensasi visual, dan karena itulah terasa lebih menusuk.

Yang membuat No Other Choice begitu efektif adalah naskah yang tidak pernah memaksa kita memilih sisi. Park Chan-wook tidak membela Man-soo, tapi juga tidak menghakiminya. Penonton dibiarkan bergulat sendiri dengan dilema itu. Dan ketika film selesai, justru pertanyaan paling mengganggu muncul:
Kalau aku di posisi dia… apa aku akan memilih berbeda?

No Other Choice bukan film yang ingin memukau dengan aksi bombastis. Ia bekerja perlahan, menusuk dengan akurat, dan mengingatkan bahwa keputusan manusia jarang hitam-putih. Saat tekanan datang dari segala arah, “tidak punya pilihan lain” bukan lagi alasan miris—tapi kenyataan pahit. Dan di titik itu, keindahan gelap film ini terasa paling kuat.

Sutradara : Park Chan-wook Penulis : Park Chan-wook, Lee Kyoung-mi, Jahye Lee Pemeran : Lee Byung-hun, Son Ye-jin, Park Hee-soon, Lee Sung-min, Yeom Hye-ran, Cha Seung-won, Kim Hyung-mook

Social media & sharing icons powered by UltimatelySocial
%d bloggers like this:
Verified by MonsterInsights