Skip to content

Holy Night : Demon Hunters (2025) – movie review

Rating: 2.5 out of 5.

Sejak namanya melambung sebagai ikon aksi modern Korea Selatan, Ma Dong-seok telah membangun sebuah sub-genre miliknya sendiri: “film di mana Ma Dong-seok memukul masalah hingga selesai.” Mulai dari zombie (Train to Busan), gangster (The Outlaws), hingga entitas kosmik (Eternals). Kini, dalam “Holy Night: Demon Hunters”, formula andalannya itu diadu dengan lawan yang paling abstrak: iblis pemakan jiwa. Hasilnya adalah sebuah sajian aksi-horor-supranatural yang brutal dan menghibur, namun di saat yang sama terasa berjalan di tempat yang terlalu aman.

Film ini memperkenalkan kita pada tim pemburu iblis yang beroperasi di malam hari. Tim ini dipimpin oleh Ba Woo (Ma Dong-seok), seorang petarung dengan kekuatan fisik luar biasa yang menjadi ujung tombak tim. Ia didampingi oleh Sharon (Seohyun), seorang pengusir setan dengan kemampuan melihat masa lalu para iblis, dan Kim Gun (Lee David), “otak” tim yang menangani teknologi dan informasi.

Ketiganya kali ini mendapat sebuah kasus yang sangat menantang dimana seorang dokter spesialis memiliki adik perempuan yang tiba-tiba mengalami perubahan sikap yang sangat aneh dan yang lebih membingungkan, gejalanya tidak terindikasi secara medis.

Tidak perlu diragukan lagi, pesona utama film ini adalah Ma Dong-seok itu sendiri. Melihatnya melawan entitas gaib dengan pukulan telak yang sama seperti saat ia menghajar preman pasar adalah sebuah visual yang unik. Sutradara Lim Dae-hee dengan cerdas tidak mencoba mengubah gaya Ma Dong-seok. Sebaliknya, ia menggunakan gaya tersebut ke dalam dunia yang benar-benar baru.

Koreografi pertarungannya terasa membumi dan brutal, sebuah kontras yang menarik dengan lawannya yang bersifat eteral dan supernatural. Setiap pukulan terasa berdampak, setiap bantingan terasa sakit, menciptakan ketegangan di mana kekuatan fisik mentah dipertaruhkan melawan sihir gelap.

Dukungan dari Seohyun sebagai Sharon juga memberikan dimensi lain pada film. Karakternya menjadi penyeimbang yang krusial bagi Ba Woo yang mengandalkan otot. Adegan-adegan di mana Sharon melakukan ritual pengusiran setan, dengan visualisasi masa lalu tragis para iblis, disajikan dengan sinematografi yang kelam dan mencekam.

Di sinilah letak kelemahan “Holy Night”. Di luar pesona para aktor dan kebrutalan aksinya, film ini terasa enggan untuk menggali lebih dalam mitologi yang coba dibangunnya. Dunia pemburu iblis, hierarki para setan, dan asal-usul sekte antagonis terasa seperti sketsa yang belum selesai. Penonton disuguhi penjelasan yang minimalis, cukup sebagai pembenaran untuk adegan pertarungan berikutnya.

Akibatnya, plot terasa berjalan di atas rel yang sangat lurus dan bisa ditebak. Tim mendapatkan kasus, menyelidiki, menemukan target, Ba Woo memukulnya, Sharon mengusirnya, dan begitu seterusnya. Kurangnya kompleksitas naratif membuat pertengahan film terasa sedikit repetitif. Potensi untuk mengeksplorasi dilema moral—misalnya, apakah semua iblis pantas dimusnahkan, terutama yang memiliki masa lalu sebagai korban—hanya disentuh di permukaan melalui karakter Sharon, namun tidak pernah benar-benar menjadi fokus utama.

Karakter pendukung seperti yang diperankan oleh Lee David dan Kyung Soo-jin juga terasa kurang dimanfaatkan, sering kali hanya berfungsi sebagai pemberi informasi atau pemanis adegan. Mereka adalah roda penggerak plot, bukan karakter yang utuh dengan busur emosional mereka sendiri.

Sebagai sebuah film aksi-horor, ia berhasil memberikan hiburan yang solid, adegan pertarungan yang memuaskan, dan atmosfer kelam yang cukup efektif. Namun, bagi penonton yang mencari horor supranatural dengan cerita berlapis dan pembangunan dunia yang kaya seperti The Wailing atau The Priests, film ini akan terasa kurang berbobot.

Pada akhirnya, ini adalah film yang sangat direkomendasikan bagi para penggemar setia Ma Dong-seok dan mereka yang mencari tontonan aksi tanpa basa-basi. Ini adalah bukti bahwa formula “pukulan maut” itu masih ampuh, namun juga sebuah pertanda bahwa formula tersebut mungkin memerlukan sedikit evolusi jika tidak ingin terasa usang di proyek-proyek berikutnya.

Sutradara : Lim Dae-hee Penulis : Lim Dae-hee, Ma Dong-seok Pemeran : Ma Dong-seok, Seohyun, Lee David, Jung Ji-so, Kyung Soo-jin

Social media & sharing icons powered by UltimatelySocial
%d bloggers like this:
Verified by MonsterInsights