Skip to content

Nightborn (2026) – movie review

Rating: 2.5 out of 5.

Hanna Bergholm kembali mengangkat tema yang dekat dengan kehidupan keluarga. Kali ini ia menyorot tentang seorang ibu yang baru melahirkan dan mulai merasa bahwa ada sesuatu yang tidak beres dengan bayinya.

Nightborn mengambil premis tersebut dan membawanya ke wilayah folk horror, body horror, dan psychological horror.

Film ini bercerita tentang Saga yang pindah ke rumah masa kecilnya bersama suaminya, Jon, di tengah hutan Finlandia, karena ingin membangun keluarga. Awalnya, semua terlihat seperti gambaran keluarga kecil pada umumnya, yang sedang mencoba memulai kehidupan baru.

Tetapi tidak lama setelah melahirkan, Saga mulai menyadari bahwa ada sesuatu yang aneh pada bayinya, Kuura. Masalahnya, hanya Saga yang tampaknya menyadarinya.

Dan sejak saat itu, momen indah yang ia impikan perlahan berubah. Ia mulai mempertanyakan apakah keanehan-keanehan tersebut memang nyata, ataukah semua itu hanya ada dalam pikirannya saja.

Salah satu yang menarik dari film ini adalah bagaimana ia menggambarkan kehidupan motherhood, yang bagi sebagian besar ibu mungkin akan terasa relate. Film ini tidak berusaha menggambarkan motherhood dari sisi yang indah.

Film ini justru menekankan bahwa menjadi ibu bukan sekedar tentang kebahagiaan memiliki anak. Ada perubahan tubuh, malam-malam tanpa tidur, tangisan tanpa henti, tuntutan untuk selalu tahu apa yang dibutuhkan bayi, dan yang paling penting : ada ekspektasi bahwa seorang ibu seharusnya secara otomatis mencintai anaknya tanpa syarat.

Nightborn mengambil semua kecemasan tersebut dan menuangkannya secara literal.

Bayinya bukan hanya sumber kebahagiaan. Ia juga menjadi sumber ketakutan. Bahwa seorang ibu bisa mencintai anaknya sekaligus merasa takut terhadap apa yang sedang terjadi pada dirinya sendiri.

Nightborn tidak selalu memperlakukan Saga sebagai sosok ibu yang sepenuhnya bisa dipercaya. Dan justru karena itu, kita dipaksa berada di posisi yang tidak nyaman.

Nightborn berusaha membawa kita masuk ke dalam kondisi mental Saga. Kita dibuat ikut terkuras oleh tangisan Kuura yang tanpa henti. Dan tidak ada satupun yang berusaha memahami Saga.

Ini mungkin pertanyaan paling menarik yang ditawarkan Nightborn.

Apakah bayi itu benar-benar sesuatu yang supernatural? Atau Saga sedang mengalami krisis psikologis yang membuat realitas dan ketakutannya bercampur?

Dan ketika Saga mulai meragukan dirinya sendiri, ruang fisik di sekitarnya ikut terasa semakin sempit.

Ini merupakan salah satu tradisi menarik dalam horror.

Rumah bukan lagi sekadar bangunan. Rumah menjadi representasi dari kondisi mental karakter. Semakin kacau pikiran Saga, semakin tidak aman pula rumah tersebut.

Dan mungkin inilah alasan mengapa setting hutan dalam Nightborn terasa penting. Hutan bukan hanya tempat monster bersembunyi. Hutan adalah dunia di luar kendali manusia.

Sesuatu yang tidak bisa dijelaskan. Sesuatu yang bisa saja mengingatkan kita bahwa manusia sebenarnya tidak pernah sepenuhnya menguasai alam maupun dirinya sendiri.

Seidi Haarla menjadi salah satu kekuatan terbesar Nightborn. Ia tidak memainkan Saga sekadar sebagai “ibu yang ketakutan”. Ada perubahan psikologis yang terasa: dari seorang perempuan yang ingin menjadi ibu, kemudian menjadi seseorang yang mulai mempertanyakan bayinya, dirinya sendiri, hubungannya dengan suami, bahkan persepsinya terhadap realitas.

Yang lebih menarik adalah bagaimana kita melihat perubahan kecil dalam dirinya. Ia mulai dari seorang perempuan yang ingin menjalani kehidupan baru sebagai ibu. Kemudian perlahan menjadi seseorang yang semakin terisolasi. Dan akhirnya semakin sulit membedakan antara insting dan paranoia.

Dan Rupert Grint sebagai Jon juga menarik karena dia tidak dibuat menjadi suami jahat stereotipikal. Ia adalah seorang suami yang cemas, tetapi berusaha mendukung istrinya. Ia tetap berusaha mempertahankan keseimbangan keluarganya, meskipun ia sendiri perlahan mulai kehilangan keseimbangan.

Film ini juga secara implisit membahas tuntutan terhadap perempuan untuk menjadi ibu yang sempurna, dan bagaimana ketakutan seorang ibu sering dianggap berlebihan daripada benar-benar didengarkan.

Masalahnya, Nightborn terkadang terlalu berusaha membuat penontonnya takut. Elemen supernatural yang sebenarnya sudah cukup kuat justru dibuat semakin berlebihan, sehingga unsur supernaturalnya kehilangan daya misterinya.

Jadi, meskipun Nightborn dibangun di atas skenario yang bagus dan memiliki inti cerita yang kuat secara emosional, film ini justru melemahkan dirinya sendiri karena terlalu bersemangat dalam menampilkan elemen-elemen horror tersebut.

Sutradara : Hanna Bergholm Penulis : Hanna Bergholm, Ilja Rautsi Pemeran : Seidi Haarla, Rupert Grint, Pamela Tola, Pirkko Saisio

Social media & sharing icons powered by UltimatelySocial
Verified by MonsterInsights