Skip to content

The Last House (2026) – movie review | Netflix

Rating: 3 out of 5.

The Last House mencoba menggabungkan antara survival thriller, horror supernatural, sci-fi, dan drama keluarga. Film ini memiliki premis yang menarik tetapi eksekusinya mungkin belum tercapai.

Film arahan Louis Leterrier ini mengikuti sebuah keluarga yang tiba-tiba terperangkap di dalam rumah mereka sendiri. Tidak ada satupun pintu dan jendela yang bisa dibuka, sementara hujan misterius dan sesuatu yang mengancam berada diluar. Mereka harus bertahan dengan sumber daya yang semakin menipis.

Tidak ada kepastian mengenai apa yang sebenarnya terjadi. Dan yang paling menakutkan, tidak ada yang tahu berapa lama mereka harus bertahan.

Pada awalnya, situasi tersebut sangat efektif. The Last House tidak terburu-buru memperlihatkan monster atau memberikan jawaban besar. Film justru mengajak kita melihat bagaimana sebuah keluarga mencoba mempertahankan kehidupan normal dalam kondisi yang sama sekali tidak normal. Mereka beradaptasi ketika dunia luar tiba-tiba tidak bisa diakses.

Tetapi perlahan, semuanya mulai berubah. Makanan berkurang. Komunikasi terputus. Tekanan meningkat. Ketakutan mulai mengambil alih keputusan. Dan rumah yang tadinya memberikan rasa aman berubah menjadi ruang yang semakin sempit secara psikologis.

Di sinilah The Last House sebenarnya memiliki potensi paling besar.

Menariknya, semakin saya memikirkan film ini, semakin saya merasa bahwa monster bukanlah bagian paling menarik dari The Last House.

Yang lebih menarik justru adalah apa yang terjadi kepada manusia ketika mereka terlalu lama hidup dalam ketakutan.

Pada awalnya, pertanyaannya sederhana: “Bagaimana kita bisa keluar?”

Kemudian berubah menjadi: “Bagaimana kita bisa bertahan?”

Dan pada titik tertentu: “Apa yang bersedia kita korbankan untuk tetap hidup?”

Perubahan tersebut memberikan dimensi psikologis yang cukup menarik.

Film ini memperlihatkan bagaimana manusia dapat beradaptasi terhadap situasi yang seharusnya tidak pernah dianggap normal.

Dari sisi akting, film ini cukup tertolong oleh para pemerannya.

Wagner Moura membawa karakter Jason sebagai sosok ayah yang berusaha menjadi pelindung keluarga. Ia ingin terlihat kuat, tetapi tekanan yang terus meningkat perlahan memperlihatkan sisi rapuhnya.

Greta Lee juga memberikan performa yang meyakinkan sebagai sosok yang berusaha menjaga keluarganya tetap utuh ketika situasi semakin tidak terkendali.

Sayangnya, film ini mungkin terlalu memuat banyak elemen : survival thriller, psychological horror, creature horror, hingga sci-fi. Tidak semuanya mendapatkan ruang yang cukup untuk berkembang, sehingga film terasa seperti sedang berpindah genre tanpa benar-benar memberikan kesempatan kepada masing-masing elemen untuk menjadi kuat.

Tetapi terlepas dari kelemahan tersebut dan juga bagaimana endingnya mungkin terasa dipaksakan, menurut saya perspektif ceritanya cukup menggelitik.

Sutradara : Louis Leterrier Penulis : Matthew Robinson Pemeran : Greta Lee, Wagner Moura, Gabriel Barbosa, Emma Ho, Noah Alexander Sosnowski, Riley Chung

Social media & sharing icons powered by UltimatelySocial
Verified by MonsterInsights