Skip to content

Review Film : Frankenstein (2025) | Netflix

Rating: 5 out of 5.

Guillermo del Toro akhirnya mewujudkan obsesinya yang telah lama dinanti—Frankenstein. Setelah bertahun-tahun bermain dengan dunia makhluk-makhluk yang terbuang dan keindahan dari yang dianggap “monster,” film ini terasa seperti surat cinta sekaligus pengakuan dosa sang sutradara kepada konsep penciptaan dan kemanusiaan itu sendiri.

Tapi jangan harap kisah ini sekadar adaptasi klasik dari novel Mary Shelley. Versi 2025 ini adalah interpretasi del Toro yang gelap, melankolis, dan penuh refleksi moral—tentang bagaimana manusia menciptakan kehidupan, lalu menganggapnya sebagai sebuah kutukan.

Film ini mengikuti Victor Frankenstein (Oscar Isaac), seorang ilmuwan brilian yang terobsesi untuk menaklukkan kematian. Namun ketika ciptaannya (diperankan dengan luar biasa oleh Jacob Elordi) hidup, dunia yang ia harapkan sebagai mahakarya ilmiah justru berubah menjadi kutukan.

Del Toro mengemas narasi klasik ini dengan nuansa gotik yang kental, tapi bukan semata untuk estetika. Setiap bayangan, setiap percikan cahaya di laboratorium, terasa seperti potongan dari jiwa Victor yang tercerai-berai. Dalam versi ini, monster bukan hanya sosok bertubuh tambal-sulam, tapi juga cerminan manusia yang kehilangan arah di antara ambisi dan rasa bersalah.

Seperti yang sudah menjadi ciri khas del Toro, Frankenstein memanjakan mata lewat sinematografi yang hampir seperti mimpi buruk yang indah. Warna-warna redup, tekstur lembap batu-batu laboratorium, dan permainan cahaya yang menyorot wajah makhluk itu seperti lukisan yang hidup.

Bahkan adegan paling kelam pun terasa puitis. Ini adalah del Toro dalam bentuk terbaiknya: menggabungkan horor, keindahan, dan kesedihan menjadi satu simfoni visual.

Oscar Isaac memberi lapisan baru pada karakter Victor. Ia bukan sekadar ilmuwan gila, tapi manusia yang hancur oleh ambisinya sendiri. Ada rasa rapuh di balik tatapan obsesifnya, seolah ia tahu bahwa tindakannya salah tapi tak mampu berhenti.

Namun sorotan terbesar jelas milik Jacob Elordi sebagai Sang Ciptaan. Dengan sedikit dialog, ia memancarkan kemanusiaan yang justru lebih dalam daripada karakter lain. Setiap gerak tubuhnya seperti pertanyaan terbuka: “Mengapa aku ada, jika hanya untuk dibenci?”

Jacob Elordi tampil luar biasa sebagai Sang Ciptaan. Tubuhnya tinggi, gerakannya kaku, tapi di balik sorot matanya tersimpan kehangatan yang nyaris menyakitkan. Elordi memainkan makhluk ini bukan sebagai monster, tapi sebagai anak yang ditinggalkan—bingung, marah, dan haus kasih sayang.
Di tangan aktor lain, karakter ini mungkin akan terasa mengerikan. Namun Elordi membuatnya… tragis. Ada rasa iba setiap kali ia mencoba memahami dunia yang membencinya.

Dan di balik itu semua, ada peran Mia Goth sebagai Elizabeth yang tidak lagi sekadar figuran cinta, tetapi simbol nurani—cahaya kecil di dunia yang terlanjur gelap.

Saya selalu mengagumi Mia Goth dan ikut merasa excited ketika ia akhirnya mendapat sebuah peran yang menonjolkan sisinya yang berbeda tetapi tetap dalam genre horror. Ia terasa sempurna sebagai Elizabeth.

Film ini menggali esensi moral dari cerita aslinya: apakah kejahatan lahir dari ciptaan, atau dari sang pencipta yang tidak mau mengakui kesalahannya? Del Toro tidak memberi jawaban mudah.

Di sinilah kekuatan Frankenstein (2025). Ia bukan film horor yang ingin menakuti, tapi film yang membuatmu merasa bersalah. Tentang keserakahan manusia, tentang batas antara sains dan Tuhan, tentang duka yang mendalam dan tentang penderitaan yang menumbuhkan keinginan untuk “bermain Tuhan”.

Del Toro menulis film ini dengan pemahaman bahwa kematian dan cinta seringkali berbicara dalam bahasa yang sama. Victor menciptakan kehidupan karena tak sanggup menerima kehilangan; makhluknya membunuh karena tak tahu bagaimana dicintai.

Frankenstein adalah karya yang memadukan horor filosofis dengan keindahan visual yang menggetarkan. Tidak semua orang akan menikmatinya—film ini lambat, penuh kontemplasi, dan lebih sering membuatmu diam daripada berteriak. Tapi di situlah kekuatannya.

Guillermo del Toro menghadirkan Frankenstein sebagai karya yang indah sekaligus memilukan. Ia mengajak kita menyelami sisi tergelap manusia dengan lembut, dan memaksa kita mengakui bahwa monster tidak selalu terlihat sebagai sosok yang menyeramkan. Kadang hati manusia yang tersakiti, rasa takut, dan ambisi tanpa kendali, justru menciptakan monster yang tak berwujud.

Sutradara : Guillermo del Toro Script: Guillermo del Toro Pemeran : Oscar Isaac, Jacob Elordi, Mia Goth, Felix Kammerer, Lars Mikkelsen, David Bradley, Charles Dance, Christoph Waltz, Christian Convery

Social media & sharing icons powered by UltimatelySocial
%d bloggers like this:
Verified by MonsterInsights