Film ini tayang di Netflix dengan judul Till Death Do Us Part dan dibintangi oleh Laura Basuki. Sebelumnya Laura Basuki berhasil menarik perhatian saya di film Sleep Call, dengan genre yang hampir serupa. Jujur saya tidak notice sama sekali ketika film ini keluar, tetapi kemunculannya di Netflix langsung membuat saya tertarik untuk menonton.
Mengambil genre psychological thriller dengan tema yang sebenarnya tidak asing lagi. Pernikahan adalah sakral dan Tuhan membenci perceraian, apa yang dipersatukan Tuhan tidak bisa dipisahkan oleh manusia. Dua kalimat yang cukup sering saya dengar dan menjadi prinsip yang baik tetapi bagaimana ketika pernikahan tersebut justru semakin tidak sehat. Janji pernikahan untuk sehidup semati, dalam susah maupun senang sampai maut memisahkan, ternyata menjadi sebuah beban sekaligus bumerang untuk Renata.
Pasangan dalam film ini adalah Edwin dan Renata, yang dari adegan awal bisa dikatakan mereka telah menikah selama tiga tahun. Tiga tahun yang tidak bahagia, terutama bagi Renata. Di wajah dan tubuhnya terdapat bekas-bekas luka yang menjadi bukti bahwa ia menjadi korban KDRT dari suaminya sendiri.
Latar belakang yang mendasari kekejaman Edwin tidak diungkapkan walaupun kita mungkin bisa mengambil satu kesimpulan dari kekurangan Renata sebagai wanita. Kemunculan wanita kedua juga memberi kesan menekankan hal tersebut.
Latar belakang Renata yang juga berasal dari keluarga yang tidak harmonis, menambah tekanan dan juga trauma bagi Renata. Saya bahkan sempat ikut merasa jengkel dengan ibu dan keluarganya yang terkesan menyalahkan Renata dan kalaupun ia tidak salah, ia tetap harus bertahan dan memegang prinsip bahwa perceraian bukanlah pilihan sama sekali.
Renata harus bertahan dalam pernikahan, apapun yang terjadi, TITIK.
Lalu ia bertemu dengan Asmara, tetangga barunya, yang kepribadian dan penampilannya sangat bertolak belakang dengan Renata. Keduanya sering menghabiskan waktu bersama dan Renata pun menceritakan tentang kehidupannya dan suaminya. Renata menjadi sedikit lebih berani karena kata-kata Asmara, yang berani dan lugas, mengungkapkan pikirannya tentang laki-laki.
Tetapi kemudian Renata mulai sering melihat bayangan seorang wanita di dalam rumahnya, bahkan menemukan kosmetik dan perhiasan yang bukan miliknya. Siapa wanita tersebut dan mengapa ia sering melihatnya didalam rumahnya?
Ini mungkin yang menjadi pertanyaan setiap penonton. Saya salut dengan alur ceritanya yang berusaha menggiring saya ke berbagai sisi tanpa berputar-putar walaupun saya sempat sedikit bingung dengan timeline antara menghilangnya Ana dan affair baru suaminya dengan Asmara.
Banyak penekanan tentang istri-istri yang harus patuh kepada suami serta selipan-selipan khotbah yang menekankan hal tersebut. Secara cerita memang terasa sedikit berbeda apalagi deretan pemerannya pun luar biasa, terutama Laura Basuki.
Menurut saya film ini terbilang film Indonesia bergenre psychological thriller yang recommended untuk ditonton. Misterinya, ketegangannya dan dark vibes nya langsung terasa walaupun transisi antara masa sekarang dan flashbacknya kadang sedikit membingungkan.
Sutradara : Upi Avianto Penulis : Upi Avianto Pemeran : Laura Basuki, Ario Bayu, Asmara Abigail, Chantiq Schagerl, Maya Hasan, Lukman Sardi
